14
Aug

simposium 10 tahun damai acehTgk. Nasruddin Ahmad (kedua dari kiri) sedang menyampaikan presentasi.

Banda Aceh, Kamis (13/8) Ketua Badan Pengawas KSP ASDC, Tgk. Nasruddin Ahmad menyampaikan presentasi pada Simposium Internasional memperingati 10 Tahun Perdamaian Aceh (15 Agustus 2005 – 15 Agustus 2015). Simposium tersebut digelar di Gedung Biro Rektorat Universitas Syiah Kuala. Acara tersebut terselenggara berkat inisiasi Aceh Peace Forum yang dikoordinir Juanda Djamal.

Dalam simposium tersebut, Teungku Nas memaparkan kontribusi elemen sipil dalam pemberdayaan ekonomi mikro secara terpadu dibawah Jejaring ASD Group (Acheh Society Development) yang telah melayani lebih dari 40 ribu warga aceh di 8 kabupaten. Teungku Nas merupakan mantan Juru Runding GAM masa CoHA tahun 2000. Sebagai mantan GAM, Teungku Nas lebih memilih jalur pemberdayaan ekonomi untuk mengisi perdamaian, dibanding jalur politik yang kebanyakan dipilih oleh koleganya. Padahal Teungku Nas, begitu beliau akrab disapa, pernah dicalonkan (tetapi menolak) sebagai Gubernur Aceh oleh GAM pada Pemilukada Tahun 2006 dalam Duek Pakat Bansa Aceh Ban Sigom Donja, 20-21 Mei 2006 di Gedung Dayan Dawood.

Dalam paparannya, Teungku Nas menegaskan bahwa semua masalah sosial dan ekonomi di Aceh akan selesai apabila masalah ekonomi tertangani dengan baik. Pertumbuhan ekonomi yang diiringi peningkatan kesejahteraan rakyat adalah garansi perdamaian Aceh. Kalau masalah ekonomi tidak tertangani dikhawatirkan siklus konflik 30 tahun akan terulang kembali. Jika ada 100 orang saja tokoh masyarakat yang mau turun dan bekerja di masyarakat, masalah ekonomi telah selesai, sektor lain pun akan membaik secara simultan. ASD Grup juga menyampaikan konsep pendidikan perdamaian terintegrasi Aceh Peace Learning Center (APLC). APLC merupakan pusat pembelajaran perdamaian yang terintegrasi antara pendidikan umum, agama, life skill, kontribusi untuk civil society, pengembangan jiwa entrepreneurship. “kita menyiapkan konsep dan SDM yang siap menjawab tantangan zaman, jika kita mampu memimpin miniatur sebuah negara, maka kita telah siap memimpin negara, apalagi sekedar memimpin Provinsi Aceh”, papar Teungku Nas yang disambut tepuk tangan meriah para hadirin.

Banyak pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan kepada Teungku Nas berikut harapan hadirin terhadap kesediaan beliau menjadi kandidat Gubernur Aceh pada Pemilukada tahun 2017. Isu ini menyeruak setelah Surat Kabar Online Tempo menurunkan berita Survei JSI yang menyebutkan Teungku Nas sebagai salah satu kandidat yang diperhitungkan (baca: Survei: Eks GAM Layak Jadi Gubernur Aceh). Hal ini ditanggapi Teungku dengan berseloroh, “saya sudah jadi Presiden (ASD Group), menjadi Gubernur itu turun jabatan, saudara mau saya turun jabatan? Naik jadi Gubernur itu gampang, yang susah turunnya” jawab beliau yang disambut tepuk tangan meriah hadirin.

Simposium tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat, baik akademisi, aktivis, sipil, eks GAM, stake holder, undangan dari luar negeri seperti dari Pattani, Moro, Papua, serta tokoh dan pelaku perdamaian Aceh dalam dan luar negeri. Diantaranya adalah Pieter Feith (mantan Ketua Aceh Monitoring Mission) dan Mr. Juha Christensen.

Ditempat terpisah, Chaiman ASDC, Bapak Husaini Ismail diwawancarai Channel News Asia terkait peran ASDC dalam pemberdayaan ekonomi paska konflik.

Berikut beritanya:


Sumber: Channel News Asia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *